Senin, 30 November 2015

Janji Terakhir



Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu. Tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia. Meski dia sering menyakitiku dan membuat aku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku. Aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku tetap memaafkan Hendra, meskipun dia sering mengkhianati cintaku.
            “Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!”
            Aku tidak sanggup menatap matanya lagi. Air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan dia memelukku erat.
            “Maafin aku Raya, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Ray. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkan Hendra. Aku takut kehilangan Hendra, aku sangat mencintainya.
            Malam ini Hendra menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Hendra dan berdandan secantik mungkin. Ku temui Hendra di ruang tamu. Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.
“Raya, kamu cantik banget malam ini.”
“Makasih, kita jadi dinner kan?”
“Ya tentu, tapi Ray, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik taksi?”
“Enggak kok, ya udah kita panggil taksi aja, ayo.”
            Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Hendra. Ini benar-benar menyenangkan, di sepanjang jalan Hendra menggenggam erat tanganku. Aku bersandar di bahu Hendra menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Hendra perbuat padaku.
            Kami berhenti di sebuah tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Hendra benar-benar mengajakku makan di tempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Hendra, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan.
“Kenapa Ndra? Mie nya gak enak?”
“Enggak kok, mie nya enak. Cuma panas aja. Kamu gakpapa kan makan di tempat kaya gini Ray?
“Enggak, aku sering kok makan di tempat kaya gini. Mie ayamnya enak banget. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”
            Aku yakin Hendra gak pernah makan di tempat kaya gini. Tapis sepertinya Hendra mulai menikmati makanannya. Dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal. Tiga tahun bersama Hendra bukan waktu yang singkat dan tidak mudah mempertahankan hubungan kami selama ini. Hendra sering mengkhianatiku, bukan satu atau dua kali Hendra berselingkuh. Tapi dia tetap kembali padaku dan aku selalu memaafkannya. Itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku hanyalah wanita bodoh yang mau di permainkan oleh Hendra. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.
            Selesai makan Hendra nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.
“Apa dompetku ketinggalan di taksi?”
“Yakin di saku gak ada?”
“Gak ada, gimana dong?”
“Ya udah pakek uang aku aja. Sekali-kali aku yang traktir kamu. Ok!”
“Makasih ya sayang, maafin aku.”
            Saat di kampus, aku bertemu dengan Alin dan Fira. Aku sangan merindukan kedua sahabatku itu. Hampir 4 bulan kami tidak bersama. Hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan Alin menarik tanganku.
“Raya? Kamu sakit? Kok pucet sih?”
Alin berbicara padaku. Ini seperti mimpi, Alin masih peduli padaku.
“Enggak, cuma capek aja kok Lin. Kalian apa kabar?”
“Jelas capek lah, punya pacar di selingkuhin terus! Lagian mau aja sih sama cowok playboy kaya Hendra! Jangan-jangan Hendra nggak sayang sama kamu? Uuppss keceplosan.” Ceplos Fira
“Stop Fir! Kasian Raya! Kamu kenapa sih Fir bahas itu mulu? Raya kan gak salah.”
“Udah deh Lin, kamu diem aja. Harusnya kamu ngaca Ray! Kenapa kamu di selingkuhin terus!”
            Fira bener. Jangan-jangan Hendra gak sayang sama aku. Hendra gak cinta sama aku, itu yang buat Hendra selalu mengkhianati aku. Selama ini kau gak pernah berfikir ke arah sana. Mungkin karena aku terlalu mencintai Hendra dan takut kehilangan Hendra. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Hendra padaku. Jika benar Hendra tidak mencintai , aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.
            Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Hendra bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Hendra megkhianatiku lagi. Kali ini kau tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanita itu, sangat jelas, dia sahabatku Fira.
            Sungguh aku benar-benar tidak bisa memaafkan Hendra. Akan kupastikan apa Hendra jujur padaku atau dia akan membohongiku lagi. Ku ambil ponselku dan menghubingi Hendra.
“Halloo.. kamu bisa jemput aku sekarang Ndra?”
“Maaf Ray, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu nggak bawa mobil ya?”
“Emang kakak kamu kemana Ndra?”
“Mau ke.. itu mau bekanja. Sekarang kamu dimana?”
“Hendra! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Fira jadi kakak kamu? Hah?”
“Raya, kamu ngomong apa sayang? Sekarang aku tanya kamu dimana?”
“Aku liat sendiri kamu pergi sama Fira Ndra! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu Ndra! Kenapa kamu harus selingkuh sama Fira? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita putus Ndra!”
“Raya, ini gak………”
Ku buang ponselku, ku laju mobilku dengan kecepatan tertinggi. Air mataku terus berjatuhan. Hatiku sangat sakut. Aku harus menerima kenyataan bahwa Hendra tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.
            Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah. Aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku. Mereka memberikan semangat padaku dan mendukungku untuk melupakan Hendra, meskipun ku tau itu takkan mudah. Setiap hari Hendra datang ke rumah meminta maaf. Bahkan Hendra sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memaafkan Hendra dan janjiku takkan ku ingkari. Tidak seperti janji-jani Hendra yang tidak akan mengkhianatiku yang selalu dia ingkari.
            Hari ini ku putuskan untuk pergi kuliah. Aku berharap tidak bertemu dengan Hendra. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Hendra ada di hadapanku.
“Maafin aku Ray! Aku sama Fira gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Ray!.”
“Kita udah putus Ndra! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar 7 juga bukan urusanku.”
“Tapi Ray…….”
Aku berlari meninggalkan Hendra, meskipun aku snagat mencintainya. Aku harus bisa melupakannya. Hendra terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tidak memperdulikannya, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan. Dan…..
“Hendraaaaa………….”
Hendra tertabrak mobil saat mengejarku. Dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepala Hendra.
“Hendra maafin aku.”
“Ra-ya… ma-af, ma-af a-ku jan-ji, jan-ji gak a-kan sa-ki-tin ka-mu la-gi. A-ku cin-ta sa-ma ka-mu, a-ku ma-u ni-kah sa-ma ka-……”
“Hendraaaaaa…..”
Seketika itu juga jantungku serasa berhenti berdetak. Nafasku tersengal-sengal. Aku tak sanggup menahan tangis. Kini tak ada lagi Hendra. Ini semua salahku, jika aku memaafkan Hendra semua ini takkan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit dan tidak pernah aku inginkan. Keyatan yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Hendra menghembuskan nafas terakhir di pelukanku. Di saat terakhir dia berjanji takkan menyakitikulagi. Di saat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya di saat meregang nyawa ketika menahan sakit karena benturan keras. Ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan. Rasanya ingin sekali menemani Hendra di dalam tanah sana. Menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan. Aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
            Satu minggu setelah kepergian Hendra, aku masih menangis. Membayangkan semua kenangan indah bersama Hendra yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyuman dan tatapan iti takkan pernah bisa ku lupakan.
“Raya, ini ada titipan dari ibunya Hendra. Kamu jangan melamun terus! Kamu harus bangkit! Biar Hendra tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa.”
“Ini salahku Bu, aku butuh waktu.”
Ku buka bingkisan dari Ibu Hendra. Di dalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop yang berwarna merah. Di dalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.
“Dear Raya,
Raya sayang, maafin aku. Aku janji gak akan nyakitin kamu. Aku sangat mencintai kamu. Aku harap kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata. Sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Raya.
Love You
Hendra”
Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya. Kupakai cincin pemberian Hendra. Aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.
“Bu, aku udah nikah sama Hendra!”
“Raya, kenapa sayang?”
“Ini!” ku tunjukkan cimcin pemberian Hendra di jari manisku.
“Raya, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”
“Sekarang aku mau cerai sama Hendra Bu!” ku lepas cincin pemberian Hendra dan memberikannya pada Ibu.
“Aku titip cincin pernikahanku sama Hendra Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!” Ibu memelukku erat dan kami menangis bersama.

Senin, 16 November 2015

The Enchantment Of Gunung Bedes




Hai Guys? Kali ini aku mau membahas tentang Pesona Gunung Bedes. Ada yang tahu lokasi wisata ini?

Lokasi yang belum lama di kenal ini bertempat di Desa Ngadirojo Kecamatan Sooko. Wisata Alam yang menawarkan udara sejuk dan juga pemandangan yang sangat memikat hati

Tapi jangan terlena dengan pemandangan indahnya ya guys! Kita juga harus berhati-hati karena di sekeliling dari gunung ini ada jurang-jurang yang dalam dan tebing-tebing batu yang cukup tinggi. Untuk mencapai lokasi ini pun kita juga harus ekstra hati-hati ketika berkendara. Karena jalan yang naik turun, terjal dan sangat membahayakan bagi pengendara.

But, itu semua akan terbayar lunas ketika kita sampai di puncak. It's so wonderful!

So.. buat kalian yang hobby naik gunung dan pecinta alam, nggak ada salahnya untuk mampir ke wisata alam ini.


Minggu, 15 November 2015

Ada Yang Lain Di Senyummu



Ada Yang Lain Di Senyummu
Aku bersembunyi di balik rerimbunan, ingin memandang 2 insan yang telah menyakiti hatiku. Ku lihat mereka sedang bercanda dengan gembiranya, pria yang ku cintai bersama wanita yang ku benci. Kini mereka beranjak dari lapangan bola volley, tempat dimana aku sering menghabiskan waktuku dengan benda yang ku sayang. Lebih tepatnya tempat untuk meluapkan seluruh emosiku.
          Apa aku salah mencintai orang? Tapi aku yakin dia yang terbaik untukku. Jika tidak, mengapa Tuhan mempertemukan kami? Ku ikuti lagi gerak gerik mereka, dan sekarang sepertinya Zhysca dan Eza mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Tempat dimana pertandingan volley sekolahku di laksanakan.
          “Ayo sayang”. Ajak Zhysca, sekilas aku terkejut ketika Zhysca memanggil Eza dengan sebutan kata ‘sayang’. “Permainan kamu bagus lo, walau gak menang tapi kamu gak pernah curang.” Puji Zhysca. Seharusnya di sana itu aku, dan aku akan berkata “Permainan kamu bagus lo, selamat ya kamu menang!”. “Makasih.” Seru Eza. “Abis ini kita kemana?” tanya Zhysca. “Udah deh. Besok kan sekolah, banyak PR lagi. Lagian emang kamu mau hubungan kita ini kebongkar?” balas Eza. Zhysca menyeringai “Oke deh!” balasnya. Mereka berlalu begitu saja tanpa suara.
          Setelah bersama Zhysca, tiba-tiba Eza menghampiriku. Aku yang sedang duduk dengan tenangnya ia kagetkan dengan memelukku dari belakang. Melihatnya membuat hatiku semakin sakit. Tapi aku cinta padanya, ku coba untuk bersikap seperti wanita selayaknya. “Aduh sayang, kamu ngagetin aja. Untung aku gak jatoh tadi.” Kataku. “he he.. maaf dong kan aku lagi kangen kamu.” Balasnya. Aku hanya tersenyum saja. Kami duduk bersebelahan melihat pertandingan bola volley. Tak terasa rintik hujan pun mulai turun. Dengan segeranya Eza melepas jaketnya dan menutupiku agar aku tak terkena hujan. Hatiku tersentuh, tapi ….?
          Bersama rintik hujan yang semakin lama semakin deras, tak ada satupun kata yang terlontar di antara kami. Hingga akhirnya aku berkata “Ada hubungan apa kamu sama Zhysca?” aku pun tahu apapun yang telah di ucapkan tak dapat di tarik kembali. Dan aku menyesal telah berkata seperti itu pada Eza, tapi aku butuh jawaban itu. Aku lihat Eza sangat terkejut mendengar kata yang terlontar dariku. “Ohh.. nggak ada, Cuma temen kok sayang. Udahlah sayangku kan cuma buat kamu.!”  Aku sudah menduga dia akan berkata seperti itu padaku. “Ohh..” balasku parau, Eza menyeritkan alisnya. “Ghaitsa, kamu gak percaya sama aku?” Eza melemas, mungkin ia mengetahui kalau aku memang sedang tidak mempercayainya. “Aku? Ahh.. enggak kok, aku percaya sama kamu.” Balasku
          Yang aku tahu Zhysca sudah mempunyai seorang kekasih yang sekarang sedang bekerja di Raja Ampat. Berarti… ? Pertanyaan itu selalu muncul tiap kali aku memandang Eza. Di rumahnya Zhysca bercerita dengan teman kostnya apa yang telah ia alami siang tadi. “Puri, aku seneng banget deh!!” teriak Zhysca. “Lo ngapain sih Zhys?”. Puri heran melihat tingkah laku Zhysca yang aneh. “Gue..!! udah dapetin apa yang gue mau, Eza!! Gimana keren kan?” ucap Zhysca. “Seriusan lo? Lo udah gitu sama Eza?? Ya ampun Zhys, lo gila apa??” “Ssstttt..” Zhysca memotong pembicaraan Puri padanya. “Jangan keras-keras honey, entar ketahuan lagi sama Ghaitsa.” Kata Zhysca sambil tersenyum dan berlalu dari hadapan Puri. “Gue cuman ngingetin aja Zhys, semua akan kebongkar kalo udah waktunya nanti. Suata saat Ghaitsa juga bakalan tau hubungan kalian. Gue nggak mau ambil resiko.!!!” Teriak Puri. “udah lah BODO amat!!! Yang penting sekarang gue lagi seneng!!!” balas Zhysca. “Oke, tapi gue ingetin hati-hati Zhys.” Kata Puri. “iya iya bawel.” Jawab Zhysca. “Longlast ya!!” teriak Puri. Zhysca tersenyum.
          Ku lirik arlojiku menunjukkan pukul 06.55, artinya 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Aku dan Eza teman sekelas, dan teman-teman di kelasku juga mengetahui ada hubungan apa aku dengan Eza. Tapi semenjak kejadian itu, aku merasa …… ? Shhh.. selebihnya ku ungkapkan pada dunia khayalku. Menulis… aku menyukai novel, eiittzz lebih tepatnya sangat fanatic. Dan semenjak ada Eza buku diary ku selalu penuh dengan puisi-puisi tentangnya. Hmm.. dan semenjak ada Eza aku mencoba untuk memahami music, dan alhasil sekarang aku mulai menyukainya. Aku tidak pernah ketinggalan 1 pun moment music yang ada hubungannya dengan Eza (se ingatku sih.. he he). Dialah semangatku untuk tetap bertahan pada apa yang aku pilih dalam hidup. Hmm..
Krrriinnngggggg……………………………………
          Bel istirahat berbunyi. Aku bersama Fey, teman sebangku ku pergi ke kantin sekolah. Kedekatan kami berstatus sahabat. Dia adalah sahabat yang selalu mengertiku. Walaupun aku seringkali membuatnya kesal. Hehehe. Di kantin, aku dan Fey hanya membeli minuman saja, tepatnya air mineral. 1 menit berlalu, ku lihat dari kejauhan tampak Zhysca bersama teman-temannya sedang berjalan menuju ke kantin. Sepertinya Zhysca tidak menyadari bahwa aku juga berada di tempat yang sama dengannya. “Pur, menurut lo Eza itu orangnya gimana sih? ‘Thought on’ Eza dong..” tanya Zhysca pada temannya. Aku kesal dengan ucapannya. “Fey.. kita ke kelas yuk!” ajakku. Sepertinya Fey juga sudah mengetahui semua yang aku lihat dan aku dengar. Aku sudah tidak tahan lagi dengan tingkah laku Zhysca yang seolah-olah tidak mengakui keberadaanku. Aku muak dengan semua orang. Dan pertanyaan Zhysca di kantin tadi membuat nafsu makanku berkurang. Zhysca itu kakak kelasku, tapi bagiku dia hanyalah bocah ingusan. Dia lebih tua 2 tahun dariku, tetapi tidak ada dewasa-dewasanya sama sekali. Aku hanya menghela nafas.
          Bel pulang pun berbunyi. Rasa keluh terasa saat aku sampai di rumah. Memandang langit-langit rumah dan tidur di atas kasurku yang terasa tidak empuk lagi. Rasanya aku tenggelam dalam badai pasir gurun sahara. Panas sekali. Tapi kejadian tadi juga memancing badai salju kutub utara datang menghampiriku. Hingga ku rasa darahku mendingin. Huhh.. 1 pesan masuk di ponselku yang cukup mengagetkanku.
“From : Zhysca
Bisa ketemu nanti Sa? Gue pengen ngomong nih”
Ahh.. Zhysca lagi Zhysca lagi. Aku sudah muak dengan semua. Aku membalas sms Zhysca dengan singkat dan padat.
“To : Zhysca
Y”
Ahhh.. KONYOL jika aku harus bertatap muka langsung dengan Zhysca. Aku takut akan perasaanku. Uhh
          Aku dan Zhysca bertemu di tempat yang cukup asing untukku. Hmm.. ada apa gerangan ? “Maaf Sa, kelamaan nunggu ya?” ucap Zhysca. “Ahh.. enggak kok. Ada apaan nih kayaknya penting banget?” tanyaku. “Ohh.. gini Sa. Gue cuman mau tanya sama lo. Bener lo pacarnya Eza?” tanya Zhysca. Oh God, gimana bisa dia bertanya seperti itu padaku. Aku menghela nafas dan berkata “Iya, kenapa? Lo suka sama dia? Lo cinta?” balasku. "Gue? Suka sama Eza? Enggak lah Sa, Lo ngomong apaan sih?” balasnya. “Nggak usah sok sandiwara Zhys, gue udah tahu semuanya!.” Balasku lagi. “Sa.. saa.. jangan gitu dong! Gue bisa jelasin semuanya! Sa, please dengerin gue dulu. Ini semua cuma salah faham.” Rintih Zhysca. Tapi sayang, hatiku sudah beku. Aku tak dapat merasa apapun lagi. Aku hanya tersenyum kecut dan beranjak pergi meninggalkan Zhysca, pengkhianat cinta.
          1 bulan berlalu begitu saja, angka-angka kalender pun juga tertiup dan berganti dengan lanjutannya. Hubungan Eza dan Zhysca pun juga ikut merenggang. Tapi hatiku, ia masih saja seperti 1 bulan yang lalu. Tak ada perubahan dalam diriku, tapi yang ada hanya rasa kesal yang bertambah hari demi hari. Hingga tak ku rasa setan jail merasuki otakku. Aku segera menelpon kakak sepupuku yang sedang PSG di Bandung. Aku menceritakan semua yang telah terjadi pada hubunganku dengan Eza. Aku pun juga mengetahui bahwa sebenarnya kakak sepupuku agak sedikit kesal karena aku mengoceh tanpa henti. Hehe
          2 hari pun berlalu. Tak ada kabar apapun dari Putra, kakak sepupuku. Ke esokkan harinya, ada satu pesan masuk di ponselku.
“From : Zhysca
Sayang, urusan lo sama gue belum selesai! Apa maksud lo sms gue kayak gitu kemarin? Hellow!!! Lo tanya sama cowok lo ada hubungan apa gue sama dia? Jangan asal ngomong aja!!! Gue gak terima ini semua, gue pengen ketemu lo sama Eza nanti jam 8 di jalan selatan!!”
Oh no! apa yang terjadi lagi? Segera aku menelpon Putra, kakak sepupuku. Ia menjelaskan apa sudah terjadi tadi malam. Ternyata ia langsung menghubungi nomor yang aku berikan padanya. Dan yang perlu di garis bawahi, Putra itu sayang banget sama aku. Jadi apapun yang terjadi sama aku dia pasti turun tangan. Apalagi masalah cowok, dia nggak segan-segan buat ngehajar cowok yang berani macem-macem sama aku. Dan fatalnya, aku lupa semua itu. And now.. ? semua udah terlambat.
          Aku pun meng iya kan apa yang di minta Zhysca. Tak lupa aku juga memberi tahu Eza. Walau aku tlah mengetahui bahwa Zhysca sudah lebih dulu memberi tahu Eza tentang semua ini. Kesalahfahaman yang sangat fatal bagiku. Aku segera bergegas menuju tempat pertemuanku dengan para pengkhianat cinta. Ahh.. terlalu puistis. Aku sengaja berangkat sendiri karena aku sudah bisa membaca apa yang akan terjadi nanti. Dan ternyata di sana Eza dan Zhysca sudah sampai lebih dulu. Aku pun turun dari motorku dan menghampiri mereka. Tak lupa aku juga memasang muka selayaknya dan tak lupa fakesmile andalanku -_-. Walaupun aku tahu rongga dada ini semakin menyempit hingga sesak yang begitu hebat aku rasakan.
          “Udah lama ya nunggunya? Maaf ya bikin kalian nunggu lama.” Tiba-tiba kata-kata itu terlontar dengan sendirinya dari mulutku. Ahh.. padahal aku tidak ingin berbicara satu patah kata apapun, ya sudahlah. “Ahh.. enggak kok Sa. Aku juga baru nyampek.” Kata Eza. “hmm.. iya” balas Zhysca. “Ehh.. Za. Aku sama Ghaitsa kesana sebentar ya. Ada yang perlu aku bicarain.” Ucap Zhysca. Aku melihat kedua mata Eza, sepertinya mereka sudah mengakhiri hubungan mereka. “Iya” jawab Eza. Aku masih di buat Zhysca bingung dengan semua.
Aku terus saja menyebut nama Zhysca, tapi Zhysca tak menghiraukanku. Hingga tiba-tiba ia berhenti seketika. Mungkin ia kesal karena kau terlalu banyak menyebut namanya. “Mau ngapain sih?” tanyaku. “Sa, gue itu udah tahu kalo lo pacarnya Eza. Jadi jangan cari gara-gara deh sama gue. Pakek acara nuduh gue selingkuh sama Eza segala. Emang lo pikir tuduhan lo itu bener?” Aku terbelalak, mataku membulat. Dalam hatiku berkata “Emang iya kan? Lo selingkuhannya Eza. Asal lo tahu Zhys, gue udah tahu semuanya dari awal. Lo gak bisa bohongin gue dengan cara lo paksain hati lo buat berkata sama kayak mulut lo! Pengecut lo!”. Tapi semua kata-kata itu tersendat di kerongkongan ku hingga aku hanya bisa terdiam. “Jawab Sa jangan diem aja.” Bentak Zhysca. Mungkin Zhysca tidak mengetahui kalau aku gak suka di bentak cuma gara-gara masalah kecil. “Iya.. apa yang lo katain tadi bener semua. Lo hebat ya Zhys. Lo cantik, perfect sampek-sampek 2 cowok lo embat sekaligus. Dimana hati lo? Jangan sok muna deh lo di depan gue. Gue udah tau semuanya. Lo gak bisa paksain hati lo buat ngomong sama kayak apa yang di omongin mulut lo ke gue! Semua itu gak guna Zhys. Perlu lo tau, kita ini sama-sama cewek. Seharusnya kita tahu gimana rasanya.” Balasku. Zhysca terdiam kaku, mungkin kata-kata ku membuatnya membeku. “Cara mandang lo ke Eza itu beda! Cara senyum lo ke Eza itu beda. Please.. mulai sekarang jangan sok baik di hadapan gue. Jangan sekali-kali lo tutupin kebusukan lo, karena itu bakal ketahuan juga. Udah cukup gue pura-pura strong di hadapan semua orang. Karena itu semua lebih sakit daripada gue harus liat lo berduaan sama Eza!” lanjutku. Aku pun segera pergi meninggalkan Zhysca yang sedari tadi hanya terdiam. Yang aku tahu hati ini telah pecah dengan sempurna.
“Udah Sa? Ada apa? Kok buru-buru?” tanya Eza. Aku mencoba untuk menahan air mataku di depannya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aku meneteskan satu titik pertamaku dan dengan segeranya aku memeluk Eza dengan erat. “Za, gue mohon jangan kayak gini ke gue. Gue takut!! Gue takut cinta yang ada di dalam hati gue ngilang gitu aja. Please, mulai sekarang lo jangan pernah ada di hadapan gue. Gue udah cukup sakit Za. Lo bohongin gue! Lo gak pantes di percayain!” bentakku. Dan tanpa berpikir panjang aku segera meninggalkan Eza tanpa kata apapun. Aku sudah mengetahui apa yang di rasakan Eza saat ini tanpa dia harus berkata apapun padaku. Semua jelas di matanya. Di balik senyum yang begitu manis. Ternyata tersimpan berjuta-juta kemunafikan dan kebohongan besar.
Semenjak kejadian ini, aku mendiami Eza, bukan Eza. Berkali-kali Eza menghubungiku setelah kejadian itu. Tapi nihil, tak ada satu pun respon dariku. Kali ini aku butuh ketenangan dalam hati dan fikiranku. Dalam hatiku berkata “Maafkan aku Eza. Bukan itu maksudku.”. Satu pesan masuk di ponselku membuyarkan lamunanku.
“From : Eza
Bisa ketemu siang ini? Aku bisa jelasin semuanya. Please jangan diemin aku kayak gini. Aku sayang kamu Sa!”
Dan pesan yang di kirimkan Eza untukku hanya mmemancing butir-butir air mata ku untuk keluar lagi. Aku tahu sulit untuk bertatap muka dengannya. Aku belum siap bertemu dengannya langsung.
          Tapi kali ini, aku mengiyakan keinginan Eza. Kami bertemu tanpa satu patah kata apapun. Aku hanya mengikuti alur lamunanku yang tak berujung. Begitu juga dengan Eza. “Ada perlu apa, Za?” tanyaku. Eza terkejut, ia menghela nafas. “Sa, maafin aku atas semuanya. Aku gak maksud buat kamu..” “Iya aku tahu. Gak papa aku kayak gini buat kamu.” Tanpa kusadari aku tlah memotong perkataan Eza. Eza hanya terdiam. “Za, perlu kamu tahu. Semua makhluk di bumi ini di ciptakan berpasang-pasangan. Dan semua makhluk pasti punya kelebihan tetapi di balik itu semua kekurangan pun juga tidak mau mengalah dengan kelebihan yang di miliki. Begitu juga jodoh, jodoh itu udah di atur sama yang di atas. Tuhan yang tahu apa yang terbaik buat kita nantinya.” Lanjutku sok puistis -_-. Eza pun memelukku dengan erat. Dan tak terasa airmata ini juga ikut keluar tanpa aku menyadarinya. Aku begitu menyayangi Eza, dan sejujurnya jauh di dalam lubuk hati ini aku menyesali semua yang telah terjadi. Dalam haru Eza tiba-tiba berkata “Sa, maafin aku.. maaf!! Aku nggak mau kehilangan kamu. Jangan coba buat mengakhiri semua. Aku tahu semua ini berat untuk kamu. Tapi aku mohon Sa!”. Mendengar perkataan Eza membuat tangisanku semakin memuncak. Aku hanya mengangguk dalam pelukan Eza.
          Setelah pertemuanku dengan Eza siang itu. Aku malah semakin menghindari Eza. Aku belum siap bertemu dengannya lagi. Dan nampaknya Eza menghargai keputusanku. Hubungan kami mengambang dan terbang pada ujung jalan. Belum ada kepastian. Lama kutunggu kabar tentang Zhysca, sepertinya Zhysca tlah hilang di telan waktu. Aku menghela nafas.
          “Sa, lo sama Hanin di panggil bu Sarah tuh.” Kata Fey. “Ada apaan sih Fey?” tanyaku. “Gue gak tahu Sa. Lo kesana aja dulu.” Jawab Fey. Aku segera mencari Hanin dan bergegas ke kantor untuk menemui bu Sarah. “Ghaitsa.. Hanin…” panggil bu Sarah. “Maaf bu ada apa kok mencari saya sama Ghaitsa. Kayaknya penting?” celetuk Hanin. Dia salah satu temanku di sekolah. Orangnya asik, dia juga pinter nyanyi, suaranya bagus banget. Kalo di bandingin sama suaraku sih, suara ku nggak ada apa-apanya. Dan bu Sarahlah yang mempertemukanku dengan Hanin. Bu Sarah menamainya dengan Vallens (Nama duetku dengan Hanin). “Ghaitsa, Hanin.. kalian mau kan ikut lomba di Samarinda? 3 hari lagi. Semua pendaftaran sekolah yang urus.” Aku terkejut mendengar ucapan bu Sarah, begitu juga dengan Hanin. Benarkah aku harus pergi? “Tapi apa gak terlalu mendadak bu?” tanyaku. “Enggak Sa. Lagi pula duet kalian kan bagus. Persiapkan diri kalian, tampilkan yang terbaik.. oke?” balas bu Sarah.
          “Ini beneran Sa? Kita ke Samarinda? Cuma lomba nyanyi? Seriusan tuh?” tanya Hanin bertubi-tubi. “Iya Han, masa bu Sarah bohong sih ke kita.? Nggak mungkin kan?” balasku. Keesokkan harinya, aku membereskan pakaianku. Aku dan Hanin menyetujui kata-kata bu Sarah, orang tuaku juga senang. Satu hal! Aku tidak memberitahukan ini kepada Eza, sulit untuk bertatap muka dengannya. Lagi pula, hubungan kami sudah sangat merenggang. Ku putuskan untuk... Ah tidak tidak, terlalu drama jika memberikan surat.
          Hari yang ku tunggu. Aku dan Hanin segera bergegas menuju bandara. Di bandara aku di temani oleh Fey, bu Sarah, Alfa, dan Pak Waluyo kepala sekolahku. “Semoga kalian juara ya! Ibu berharap yang terbaik untuk kalian.” Ucap bu Sarah menepuk pelan bahuku dan Hanin. Kami tersenyum. “Lho bu? Kan ibu yang mengajari Ghaitsa dan Hanin menjadi seperti ini. Pasti menang lah.” Ucap pak Waluyo. Kami pun tertawa, “Sa.. Nin.. jangan lupa belajar!” lanjut pak Waluyo. Kami mengangguk.
          10 menit lagi aku akan menaiki pesawat, aku akan meninggalkan kotaku dan juga.. hufftt ..!!! aku menunduk. “Ghaitsa....” suara angin menyebut namaku, seperti Eza berlirih. Aku mendongak, celingak celinguk mencari seseorang. “Kenapa Sa?” tanya Hanin, aku terkejut “Gak papa, Cuma laper aja. Mungkin ‘Snack Bar’ nya jauh. Lagi pula 10 menit lagi kita take off.” Balasku, Hanin mengangguk. Pesawat yang aku tumpangi telah membawaku ke suatu tempat asing yang cukup nyaman bagiku. Ya.. tak ada bayangan Eza dan Zhysca di depanku.
          1 minggu berlalu, aku menang dalam kompetisi itu. Aku dan Hanin menempati juara 1. Sore nanti aku akan kembali dengan kemenanganku. Tunggu,... aku larut dalam kemenanganku, di mana aku yang dulu selalu menyayangi Eza? “Sa, lo tau gak? Kemarin Eza main ke rumah gue nanyain lo. Gue bilang aja elunya lagi di Samarinda sama Hanin, dan dia udah tahu segalanya. Cerita Ihsan ketika aku sampai di Surabaya dan di jemputnya. “Seriusan?” celetuk Fey. “Gak mungkin!” balasku. Ryan dan Ihsan tertawa. “Yah, lo gak percaya. Gue saksinya Sa, gue kemarin juga di rumahnya Ihsan kale’. Mungkin besok lo bakal di tanyain sama Eza.” Ryan meyakinkanku. Aku hanya tersenyum, membayangkan apa yang akan terjadi esok hari. Ryan dan Ihsan adalah salah dua dari semua teman-temanku. Aku sering menceritakan semua kejadian di hidupku pada mereka di luar Fey, Alfa, dan Hanin. Hmm... mereka lah best friend forever and ever in my life.. he he
          Satu minggu ada di pulau tetangga, aku sudah merasa kangen dengan suasana rumah dan lingkungan sekitarku. Tepatnya, suasana kamar dengan kasur yang sudah tak empuk lagi dan bau bantal gulingku. Tubuh ini terasa kaku dan patah satu per satu. Ku putuskan untuk beristirahat. Ahhh... belum ada 5 menit aku berbaring, tiba-tiba ponselku berbunyi. 1 pesan masuk.
“From : Ryan
Malem Sa. ? udah tidur?”
OMG, dari mana Ryan tahu nomor ponselku? Hmm.. dan malam itu Ryanlah yang menemaniku sampai ku tertidur. Nice 😊
          Keesokan harinya, ketika ku tiba di sekolah. Ternyata Bu Sarah telah menyiapkan surprise untukku dan Hanin. Aku terharu, Bu Sarah menyalamiku dan kemudian memelukku, begitu juga dengan Hanin. Terlihat dari kejauhan, nampak Ryan sedang tersenyum ke arahku. Aku pun juga tersenyum ke arahnya. Tapi, pagi ini aku tidak melihat batang hidung Eza. Kemana dia?
          Terlepas dari itu, Ihsan mengajakku ke kantin. “Sa, ke kantin yuk! Gue yang traktir. Buat ngrayain kemenangan lo sama Hanin. Gue juga ngajak Ryan, Fey, Alfa, Lia, sama Eza. Mau kan?” ucap Ihsan padaku. Tapi aku malah terdiam kaku saat ku dengar Ihsan mengucapkan nama yang telah meleburkan jiwaku, Eza. “Sa, mau nggak? Kok diem?” tanya Ihsan. “Ehh.. iya gue mau. Makasih ya!” balasku. Aku pun segera mengikuti Ihsan menuju kantin. Begitu juga dengan Hanin, Ryan dan teman-teman yang lain. “Wahh.. kali ini bakal kenyang nih Sa!.” Celetuk Ryan. “Ahh.. apaan sih Yan, makanan mulu’ lo.. he he. Tumben-tumbenan nih Ihsan ngajakin ke kantin,? Abis bayaran dia?” balasku. “Iya kali’” balas Ryan. Kami pun tertawa. Entah sadar atau tidak tiba-tiba Ryan menggandeng tanganku dan mengajakku untuk duduk berhadapan dengannya. Aku sedikit tidak nyaman dengan tingkah Ryan padaku.
          Kali ini Eza datang terlambat. “Haduh.. maaf nih guys, tadi ada gangguan sedikit. Jadi telat deh!” ucap Eza. Eza pun langsung mengambil tempat duduk tepat di sebelahku. Hatiku sedikit menjerit, aku belum siap bertatap muka dengannya. Mungkin tidak ada salahnya Ryan menggandengku tadi karena yang aku tahu Eza sedang berdebat sesuatu dengan Zhysca, dan sepertinya Ryan mengetahui itu dan dia tidak ingin aku terluka lagi. Kami pun segera memesan makanan. “Makan yang banyak, biar cepet gede kayak gue!” celetuk Ihsan. Kami semua tertawa.
          Setelah selesai makan, tiba-tiba Eza memegang tanganku. Ia mengajakku untuk berbicara. Ryan tak henti memandangku yang merasa tidak nyaman lagi dengan Eza. “Ada apa Za? Kok buru-buru?” tanyaku. “Emm.. longlast ya Sa, lo menang di kompetisi cipta lagu di Samarinda.” Balas Eza. “Ya Ampun.. iya makasih Za.” Balasku. “Lo kok gak ngabarin gue sih kalo lo ikut lomba di Samarinda? Gue khawatir banget tauk dapet kabar kalo lo ada di Samarinda.” Balas Eza dengan nada khawatir. “He he.. maaf ya gak sempet ngabarin. Hand phone gue mati waktu gue mau berangkat.” Aku ngeles, semoga Eza gak tau kalo aku bohongin dia. Karena sebenarnya aku memang sengaja tidak mau memberitahunya tentang lomba itu. Aku hanya ingin menenangkan fikiranku.
Kriiiiiinnngggggggggg……………………………………………………….
          Bel masuk berbunyi. “Udah masuk tuh. Yuk ke kelas..” ajakku. Kami berjalan beriringan menuju kelas. Dan nampak dari kejauhan Zhysca sedang memperhatikan kami, ia tersenyum. Mungkin itu senyuman perpisahannya dengan Eza atau mungkin itu senyum kemenangan karena dia telah berhasil menghancurkanku. Ahh.. tidak penting sama sekali jika ku memikirkan itu.
          Sepulang sekolah, ada 1 pesan masuk di ponselku.
“From : Zhysca
Nanti malem ketemu bisa? Penting!”
Ada apa lagi ini ? Aku sudah capek berurusan dengan Zhysca. Buang-buang tenaga saja. Aku mengiyakan lagi keinginannya untuk ke sekian kalinya. Setelah bertemu, Kami hanya terdiam dalam lamunan masing-masing. “Sa..” ucap Zhysca. Aku menoleh ke arahnya “Iya..”. “Sa.. gue..” tiba-tiba Zhysca memelukku dengan erat dan aku mulai merasakan bajuku basah karena airmata Zhysca. “Zhys.. apaan sih? Lo kenapa? Coba jelasin ke gue!” balasku. Dia tetap memelukku dengan erat “Sa.. maafin gue, atas semua kesalahan yang gue lakuin ke lo. Gue minta maaf! Ini semua salah gue, bukan Eza yang salah! Gue yang mancing Eza buat mau jadi selingkuhan gue! Gue yang naksir Eza Sa.! Eza gak salah, Gue yang salah! Maafin guee!!!” rintih Zhysca. Aku merasakan tubuh ini mulai melemas. Apa yang aku takutkan kala itu kini terbuka lebar tanpa batasan di hadapanku. Tak ku rasakan lagi oksigen yang melalui hidungku. Nafasku tak teratur, apa yang terjadi padaku ?
          Aku mulai bicara sebisa ku. “Zhys.. sebelum lo minta maaf, gue udah maafin kesalahan lo dan juga Eza. Kalian udah nggak punya salah sama gue, semua udah berakhir Zhys. Silakan kalian menjalani kehidupan kalian selanjutnya. Itu udah bukan urusan gue lagi!” balasku. Aku segera melepaskan pelukan Zhysca dan pergi meninggalkannya dengan tubuh lemas tak berdaya. Dalam batinku berkata “Apakah harus sesakit ini?”. Di perjalanan pulang, aku bertemu Ryan. Sepertinya Ryan mengetahui bahwa tak ada satu pun tenaga ada dalam tubuhku. Ryan mengajakku pergi ke suatu tempat. Ia meminta ku menceritakan apa yang terjadi padaku. Aku tak bisa berkata apapun, aku tak ingin orang lain tau dan khawatir kepadaku. “Sa.. kenapa diem? Jawab dong pertanyaan aku tadi. Kamu kenapa?” tanya Ryan. Tapi sampai saat ini pun tak satupun kata terlontar dariku. Tiba-tiba Ryan mendekat dan memelukku. Kali ini aku merasa nyaman dalam pelukan Ryan, hingga butir air mata ini mengalir kembali.
          Setelah kejadian tadi malam, aku telah mengetahui alur sebenarnya. Sandiwara itu telah berakhir. Dan kini kembali seperti semula dengan lembaran barunya. Ya.. cintaku dan Eza memang tak di takdirkan berakhir. Aku harap setelah kejadian ini semua akan baik-baik saja. Begitu juga aku dan teman-teman lainnya. Aku dan Ryan hanya akan berstatus teman sampai kapanpun. Aku menyayanginya selayaknya seorang teman terbaik. Dan Eza, Zhysca dan aku sekarang berteman baik. Lebih tepatnya aku dan Zhysca saja. Entah karena apa sekarang Eza begitu membenci Zhysca. Tapi, aku percaya semua akan indah pada waktunya.