Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan
tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu. Tatapan
yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku
sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia. Meski dia
sering menyakitiku dan membuat aku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan
sahabatku. Aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku tetap
memaafkan Hendra, meskipun dia sering mengkhianati cintaku.
“Aku gak tau
harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah
ngancurin kepercayaan aku!”
Aku tidak
sanggup menatap matanya lagi. Air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku.
Aku tak berdaya, begitu lemas dan dia memelukku erat.
“Maafin aku
Raya, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Ray. Aku
sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkan Hendra.
Aku takut kehilangan Hendra, aku sangat mencintainya.
Malam ini
Hendra menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan
gaun biru pemberian Hendra dan berdandan secantik mungkin. Ku temui Hendra di
ruang tamu. Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.
“Raya, kamu cantik banget malam ini.”
“Makasih, kita jadi dinner kan?”
“Ya tentu, tapi Ray, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil
kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik taksi?”
“Enggak kok, ya udah kita panggil taksi aja, ayo.”
Dengan penuh
semangat aku menggandeng lengan Hendra. Ini benar-benar menyenangkan, di
sepanjang jalan Hendra menggenggam erat tanganku. Aku bersandar di bahu Hendra
menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Hendra
perbuat padaku.
Kami
berhenti di sebuah tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Hendra
benar-benar mengajakku makan di tempat seperti ini. Aku tahu betul sifat
Hendra, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan.
“Kenapa Ndra? Mie nya gak enak?”
“Enggak kok, mie nya enak. Cuma panas aja. Kamu gakpapa kan
makan di tempat kaya gini Ray?
“Enggak, aku sering kok makan di tempat kaya gini. Mie
ayamnya enak banget. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”
Aku yakin
Hendra gak pernah makan di tempat kaya gini. Tapis sepertinya Hendra mulai
menikmati makanannya. Dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya,
keluarganya dan banyak hal. Tiga tahun bersama Hendra bukan waktu yang singkat
dan tidak mudah mempertahankan hubungan kami selama ini. Hendra sering
mengkhianatiku, bukan satu atau dua kali Hendra berselingkuh. Tapi dia tetap
kembali padaku dan aku selalu memaafkannya. Itu yang membuatku kehilangan
sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku hanyalah wanita bodoh yang mau di
permainkan oleh Hendra. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap
mereka sahabatku.
Selesai
makan Hendra nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.
“Apa dompetku ketinggalan di taksi?”
“Yakin di saku gak ada?”
“Gak ada, gimana dong?”
“Ya udah pakek uang aku aja. Sekali-kali aku yang traktir
kamu. Ok!”
“Makasih ya sayang, maafin aku.”
Saat di
kampus, aku bertemu dengan Alin dan Fira. Aku sangan merindukan kedua sahabatku
itu. Hampir 4 bulan kami tidak bersama. Hingga saat ini mereka tetap sahabat
terbaikku. Saat berpapasan Alin menarik tanganku.
“Raya? Kamu sakit? Kok pucet sih?”
Alin berbicara padaku. Ini seperti mimpi, Alin masih peduli
padaku.
“Enggak, cuma capek aja kok Lin. Kalian apa kabar?”
“Jelas capek lah, punya pacar di selingkuhin terus! Lagian
mau aja sih sama cowok playboy kaya Hendra! Jangan-jangan Hendra nggak sayang
sama kamu? Uuppss keceplosan.” Ceplos Fira
“Stop Fir! Kasian Raya! Kamu kenapa sih Fir bahas itu mulu?
Raya kan gak salah.”
“Udah deh Lin, kamu diem aja. Harusnya kamu ngaca Ray! Kenapa
kamu di selingkuhin terus!”
Fira bener.
Jangan-jangan Hendra gak sayang sama aku. Hendra gak cinta sama aku, itu yang
buat Hendra selalu mengkhianati aku. Selama ini kau gak pernah berfikir ke arah
sana. Mungkin karena aku terlalu mencintai Hendra dan takut kehilangan Hendra.
Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Hendra padaku.
Jika benar Hendra tidak mencintai , aku benar-benar tidak bisa memaafkannya
lagi.
Meskipun
tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas
kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat
sampai ke tempat parkir, aku melihat Hendra bersama seorang wanita. Aku tidak
bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Hendra
megkhianatiku lagi. Kali ini kau tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam
mobil, aku bisa melihat wanita itu, sangat jelas, dia sahabatku Fira.
Sungguh aku
benar-benar tidak bisa memaafkan Hendra. Akan kupastikan apa Hendra jujur
padaku atau dia akan membohongiku lagi. Ku ambil ponselku dan menghubingi
Hendra.
“Halloo.. kamu bisa jemput aku sekarang Ndra?”
“Maaf Ray, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter
kakak, kamu nggak bawa mobil ya?”
“Emang kakak kamu kemana Ndra?”
“Mau ke.. itu mau bekanja. Sekarang kamu dimana?”
“Hendra! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja?
Sejak Fira jadi kakak kamu? Hah?”
“Raya, kamu ngomong apa sayang? Sekarang aku tanya kamu
dimana?”
“Aku liat sendiri kamu pergi sama Fira Ndra! Kamu gak usah
bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu Ndra! Kenapa kamu harus
selingkuh sama Fira? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi!
Kita putus Ndra!”
“Raya, ini gak………”
Ku buang ponselku, ku laju mobilku dengan kecepatan
tertinggi. Air mataku terus berjatuhan. Hatiku sangat sakut. Aku harus menerima
kenyataan bahwa Hendra tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.
Beberapa
hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah. Aku hanya bisa mengurung diri
di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku. Mereka
memberikan semangat padaku dan mendukungku untuk melupakan Hendra, meskipun ku
tau itu takkan mudah. Setiap hari Hendra datang ke rumah meminta maaf. Bahkan
Hendra sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak
menemuinya. Aku berjanji tidak akan memaafkan Hendra dan janjiku takkan ku
ingkari. Tidak seperti janji-jani Hendra yang tidak akan mengkhianatiku yang
selalu dia ingkari.
Hari ini ku
putuskan untuk pergi kuliah. Aku berharap tidak bertemu dengan Hendra. Tapi
seusai kuliah, tiba-tiba Hendra ada di hadapanku.
“Maafin aku Ray! Aku sama Fira gak ada hubungan apa-apa. Aku
Cuma nanyain tentang kamu ke dia Ray!.”
“Kita udah putus Ndra! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu
bebas! Kamu mau punya pacar 7 juga bukan urusanku.”
“Tapi Ray…….”
Aku berlari meninggalkan Hendra, meskipun aku snagat
mencintainya. Aku harus bisa melupakannya. Hendra terus mengejarku dan
mengucapkan kata maaf. Tapi aku tidak memperdulikannya, aku semakin cepat
berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar
suara tabrakan. Dan…..
“Hendraaaaa………….”
Hendra tertabrak mobil saat mengejarku. Dia terpental sangat
jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang
keluar dari kepala Hendra.
“Hendra maafin aku.”
“Ra-ya… ma-af, ma-af a-ku jan-ji, jan-ji gak a-kan sa-ki-tin
ka-mu la-gi. A-ku cin-ta sa-ma ka-mu, a-ku ma-u ni-kah sa-ma ka-……”
“Hendraaaaaa…..”
Seketika itu juga jantungku serasa berhenti berdetak. Nafasku
tersengal-sengal. Aku tak sanggup menahan tangis. Kini tak ada lagi Hendra. Ini
semua salahku, jika aku memaafkan Hendra semua ini takkan terjadi. Sekarang aku
harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit dan tidak pernah aku
inginkan. Keyatan yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Hendra menghembuskan
nafas terakhir di pelukanku. Di saat terakhir dia berjanji takkan
menyakitikulagi. Di saat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku.
Dia mengatakan semuanya di saat meregang nyawa ketika menahan sakit karena
benturan keras. Ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.
Rasanya ingin sekali menemani Hendra di dalam tanah sana. Menemaninya dalam
kegelapan, kesunyian, kedinginan. Aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali
perbuatanku. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Satu minggu
setelah kepergian Hendra, aku masih menangis. Membayangkan semua kenangan indah
bersama Hendra yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyuman dan tatapan iti
takkan pernah bisa ku lupakan.
“Raya, ini ada titipan dari ibunya Hendra. Kamu jangan
melamun terus! Kamu harus bangkit! Biar Hendra tenang di alam sana. Ibu yakin
kamu bisa.”
“Ini salahku Bu, aku butuh waktu.”
Ku buka bingkisan dari Ibu Hendra. Di dalamnya ada kotak
kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop yang berwarna
merah. Di dalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis
kembali dan membuka amplop itu.
“Dear Raya,
Raya sayang, maafin aku. Aku janji gak akan nyakitin kamu. Aku
sangat mencintai kamu. Aku harap kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata.
Sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin
pernikahan kita.
Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu
Raya.
Love You
Hendra”
Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya.
Kupakai cincin pemberian Hendra. Aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.
“Bu, aku udah nikah sama Hendra!”
“Raya, kenapa sayang?”
“Ini!” ku tunjukkan cimcin pemberian Hendra di jari manisku.
“Raya, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”
“Sekarang aku mau cerai sama Hendra Bu!” ku lepas cincin
pemberian Hendra dan memberikannya pada Ibu.
“Aku titip cincin pernikahanku sama Hendra Bu! Ibu harus
menjaganya dengan baik!” Ibu memelukku erat dan kami menangis bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar