Senin, 30 November 2015

Janji Terakhir



Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu. Tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia. Meski dia sering menyakitiku dan membuat aku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku. Aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku tetap memaafkan Hendra, meskipun dia sering mengkhianati cintaku.
            “Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!”
            Aku tidak sanggup menatap matanya lagi. Air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan dia memelukku erat.
            “Maafin aku Raya, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Ray. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkan Hendra. Aku takut kehilangan Hendra, aku sangat mencintainya.
            Malam ini Hendra menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Hendra dan berdandan secantik mungkin. Ku temui Hendra di ruang tamu. Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.
“Raya, kamu cantik banget malam ini.”
“Makasih, kita jadi dinner kan?”
“Ya tentu, tapi Ray, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik taksi?”
“Enggak kok, ya udah kita panggil taksi aja, ayo.”
            Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Hendra. Ini benar-benar menyenangkan, di sepanjang jalan Hendra menggenggam erat tanganku. Aku bersandar di bahu Hendra menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Hendra perbuat padaku.
            Kami berhenti di sebuah tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Hendra benar-benar mengajakku makan di tempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Hendra, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan.
“Kenapa Ndra? Mie nya gak enak?”
“Enggak kok, mie nya enak. Cuma panas aja. Kamu gakpapa kan makan di tempat kaya gini Ray?
“Enggak, aku sering kok makan di tempat kaya gini. Mie ayamnya enak banget. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.”
            Aku yakin Hendra gak pernah makan di tempat kaya gini. Tapis sepertinya Hendra mulai menikmati makanannya. Dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal. Tiga tahun bersama Hendra bukan waktu yang singkat dan tidak mudah mempertahankan hubungan kami selama ini. Hendra sering mengkhianatiku, bukan satu atau dua kali Hendra berselingkuh. Tapi dia tetap kembali padaku dan aku selalu memaafkannya. Itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku hanyalah wanita bodoh yang mau di permainkan oleh Hendra. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.
            Selesai makan Hendra nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.
“Apa dompetku ketinggalan di taksi?”
“Yakin di saku gak ada?”
“Gak ada, gimana dong?”
“Ya udah pakek uang aku aja. Sekali-kali aku yang traktir kamu. Ok!”
“Makasih ya sayang, maafin aku.”
            Saat di kampus, aku bertemu dengan Alin dan Fira. Aku sangan merindukan kedua sahabatku itu. Hampir 4 bulan kami tidak bersama. Hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan Alin menarik tanganku.
“Raya? Kamu sakit? Kok pucet sih?”
Alin berbicara padaku. Ini seperti mimpi, Alin masih peduli padaku.
“Enggak, cuma capek aja kok Lin. Kalian apa kabar?”
“Jelas capek lah, punya pacar di selingkuhin terus! Lagian mau aja sih sama cowok playboy kaya Hendra! Jangan-jangan Hendra nggak sayang sama kamu? Uuppss keceplosan.” Ceplos Fira
“Stop Fir! Kasian Raya! Kamu kenapa sih Fir bahas itu mulu? Raya kan gak salah.”
“Udah deh Lin, kamu diem aja. Harusnya kamu ngaca Ray! Kenapa kamu di selingkuhin terus!”
            Fira bener. Jangan-jangan Hendra gak sayang sama aku. Hendra gak cinta sama aku, itu yang buat Hendra selalu mengkhianati aku. Selama ini kau gak pernah berfikir ke arah sana. Mungkin karena aku terlalu mencintai Hendra dan takut kehilangan Hendra. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Hendra padaku. Jika benar Hendra tidak mencintai , aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi.
            Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Hendra bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Hendra megkhianatiku lagi. Kali ini kau tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanita itu, sangat jelas, dia sahabatku Fira.
            Sungguh aku benar-benar tidak bisa memaafkan Hendra. Akan kupastikan apa Hendra jujur padaku atau dia akan membohongiku lagi. Ku ambil ponselku dan menghubingi Hendra.
“Halloo.. kamu bisa jemput aku sekarang Ndra?”
“Maaf Ray, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu nggak bawa mobil ya?”
“Emang kakak kamu kemana Ndra?”
“Mau ke.. itu mau bekanja. Sekarang kamu dimana?”
“Hendra! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Fira jadi kakak kamu? Hah?”
“Raya, kamu ngomong apa sayang? Sekarang aku tanya kamu dimana?”
“Aku liat sendiri kamu pergi sama Fira Ndra! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu Ndra! Kenapa kamu harus selingkuh sama Fira? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita putus Ndra!”
“Raya, ini gak………”
Ku buang ponselku, ku laju mobilku dengan kecepatan tertinggi. Air mataku terus berjatuhan. Hatiku sangat sakut. Aku harus menerima kenyataan bahwa Hendra tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku.
            Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah. Aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku. Mereka memberikan semangat padaku dan mendukungku untuk melupakan Hendra, meskipun ku tau itu takkan mudah. Setiap hari Hendra datang ke rumah meminta maaf. Bahkan Hendra sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memaafkan Hendra dan janjiku takkan ku ingkari. Tidak seperti janji-jani Hendra yang tidak akan mengkhianatiku yang selalu dia ingkari.
            Hari ini ku putuskan untuk pergi kuliah. Aku berharap tidak bertemu dengan Hendra. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Hendra ada di hadapanku.
“Maafin aku Ray! Aku sama Fira gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Ray!.”
“Kita udah putus Ndra! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar 7 juga bukan urusanku.”
“Tapi Ray…….”
Aku berlari meninggalkan Hendra, meskipun aku snagat mencintainya. Aku harus bisa melupakannya. Hendra terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tidak memperdulikannya, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan. Dan…..
“Hendraaaaa………….”
Hendra tertabrak mobil saat mengejarku. Dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepala Hendra.
“Hendra maafin aku.”
“Ra-ya… ma-af, ma-af a-ku jan-ji, jan-ji gak a-kan sa-ki-tin ka-mu la-gi. A-ku cin-ta sa-ma ka-mu, a-ku ma-u ni-kah sa-ma ka-……”
“Hendraaaaaa…..”
Seketika itu juga jantungku serasa berhenti berdetak. Nafasku tersengal-sengal. Aku tak sanggup menahan tangis. Kini tak ada lagi Hendra. Ini semua salahku, jika aku memaafkan Hendra semua ini takkan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit dan tidak pernah aku inginkan. Keyatan yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Hendra menghembuskan nafas terakhir di pelukanku. Di saat terakhir dia berjanji takkan menyakitikulagi. Di saat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya di saat meregang nyawa ketika menahan sakit karena benturan keras. Ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan. Rasanya ingin sekali menemani Hendra di dalam tanah sana. Menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan. Aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
            Satu minggu setelah kepergian Hendra, aku masih menangis. Membayangkan semua kenangan indah bersama Hendra yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyuman dan tatapan iti takkan pernah bisa ku lupakan.
“Raya, ini ada titipan dari ibunya Hendra. Kamu jangan melamun terus! Kamu harus bangkit! Biar Hendra tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa.”
“Ini salahku Bu, aku butuh waktu.”
Ku buka bingkisan dari Ibu Hendra. Di dalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop yang berwarna merah. Di dalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.
“Dear Raya,
Raya sayang, maafin aku. Aku janji gak akan nyakitin kamu. Aku sangat mencintai kamu. Aku harap kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata. Sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita.
Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Raya.
Love You
Hendra”
Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya. Kupakai cincin pemberian Hendra. Aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.
“Bu, aku udah nikah sama Hendra!”
“Raya, kenapa sayang?”
“Ini!” ku tunjukkan cimcin pemberian Hendra di jari manisku.
“Raya, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!”
“Sekarang aku mau cerai sama Hendra Bu!” ku lepas cincin pemberian Hendra dan memberikannya pada Ibu.
“Aku titip cincin pernikahanku sama Hendra Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!” Ibu memelukku erat dan kami menangis bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar