Aku
bersembunyi di balik rerimbunan, ingin memandang 2 insan yang telah menyakiti
hatiku. Ku lihat mereka sedang bercanda dengan gembiranya, pria yang ku cintai
bersama wanita yang ku benci. Kini mereka beranjak dari lapangan bola volley,
tempat dimana aku sering menghabiskan waktuku dengan benda yang ku sayang.
Lebih tepatnya tempat untuk meluapkan seluruh emosiku.
Apa aku salah mencintai orang? Tapi
aku yakin dia yang terbaik untukku. Jika tidak, mengapa Tuhan mempertemukan
kami? Ku ikuti lagi gerak gerik mereka, dan sekarang sepertinya Zhysca dan Eza
mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Tempat dimana pertandingan volley
sekolahku di laksanakan.
“Ayo sayang”. Ajak Zhysca, sekilas aku
terkejut ketika Zhysca memanggil Eza dengan sebutan kata ‘sayang’. “Permainan
kamu bagus lo, walau gak menang tapi kamu gak pernah curang.” Puji Zhysca.
Seharusnya di sana itu aku, dan aku akan berkata “Permainan kamu bagus lo,
selamat ya kamu menang!”. “Makasih.” Seru Eza. “Abis ini kita kemana?” tanya
Zhysca. “Udah deh. Besok kan sekolah, banyak PR lagi. Lagian emang kamu mau
hubungan kita ini kebongkar?” balas Eza. Zhysca menyeringai “Oke deh!”
balasnya. Mereka berlalu begitu saja tanpa suara.
Setelah bersama Zhysca, tiba-tiba Eza
menghampiriku. Aku yang sedang duduk dengan tenangnya ia kagetkan dengan
memelukku dari belakang. Melihatnya membuat hatiku semakin sakit. Tapi aku
cinta padanya, ku coba untuk bersikap seperti wanita selayaknya. “Aduh sayang,
kamu ngagetin aja. Untung aku gak jatoh tadi.” Kataku. “he he.. maaf dong kan
aku lagi kangen kamu.” Balasnya. Aku hanya tersenyum saja. Kami duduk
bersebelahan melihat pertandingan bola volley. Tak terasa rintik hujan pun
mulai turun. Dengan segeranya Eza melepas jaketnya dan menutupiku agar aku tak
terkena hujan. Hatiku tersentuh, tapi ….?
Bersama rintik hujan yang semakin lama
semakin deras, tak ada satupun kata yang terlontar di antara kami. Hingga
akhirnya aku berkata “Ada hubungan apa kamu sama Zhysca?” aku pun tahu apapun
yang telah di ucapkan tak dapat di tarik kembali. Dan aku menyesal telah
berkata seperti itu pada Eza, tapi aku butuh jawaban itu. Aku lihat Eza sangat
terkejut mendengar kata yang terlontar dariku. “Ohh.. nggak ada, Cuma temen kok
sayang. Udahlah sayangku kan cuma buat kamu.!”
Aku sudah menduga dia akan berkata seperti itu padaku. “Ohh..” balasku
parau, Eza menyeritkan alisnya. “Ghaitsa, kamu gak percaya sama aku?” Eza
melemas, mungkin ia mengetahui kalau aku memang sedang tidak mempercayainya.
“Aku? Ahh.. enggak kok, aku percaya sama kamu.” Balasku
Yang aku tahu Zhysca sudah mempunyai
seorang kekasih yang sekarang sedang bekerja di Raja Ampat. Berarti… ?
Pertanyaan itu selalu muncul tiap kali aku memandang Eza. Di rumahnya Zhysca
bercerita dengan teman kostnya apa yang telah ia alami siang tadi. “Puri, aku
seneng banget deh!!” teriak Zhysca. “Lo ngapain sih Zhys?”. Puri heran melihat
tingkah laku Zhysca yang aneh. “Gue..!! udah dapetin apa yang gue mau, Eza!!
Gimana keren kan?” ucap Zhysca. “Seriusan lo? Lo udah gitu sama Eza?? Ya ampun
Zhys, lo gila apa??” “Ssstttt..” Zhysca memotong pembicaraan Puri padanya.
“Jangan keras-keras honey, entar ketahuan lagi sama Ghaitsa.” Kata Zhysca
sambil tersenyum dan berlalu dari hadapan Puri. “Gue cuman ngingetin aja Zhys,
semua akan kebongkar kalo udah waktunya nanti. Suata saat Ghaitsa juga bakalan
tau hubungan kalian. Gue nggak mau ambil resiko.!!!” Teriak Puri. “udah lah
BODO amat!!! Yang penting sekarang gue lagi seneng!!!” balas Zhysca. “Oke, tapi
gue ingetin hati-hati Zhys.” Kata Puri. “iya iya bawel.” Jawab Zhysca.
“Longlast ya!!” teriak Puri. Zhysca tersenyum.
Ku lirik arlojiku menunjukkan pukul
06.55, artinya 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Aku dan Eza teman sekelas,
dan teman-teman di kelasku juga mengetahui ada hubungan apa aku dengan Eza. Tapi
semenjak kejadian itu, aku merasa …… ? Shhh.. selebihnya ku ungkapkan pada
dunia khayalku. Menulis… aku menyukai novel, eiittzz lebih tepatnya sangat
fanatic. Dan semenjak ada Eza buku diary ku selalu penuh dengan puisi-puisi
tentangnya. Hmm.. dan semenjak ada Eza aku mencoba untuk memahami music, dan
alhasil sekarang aku mulai menyukainya. Aku tidak pernah ketinggalan 1 pun
moment music yang ada hubungannya dengan Eza (se ingatku sih.. he he). Dialah
semangatku untuk tetap bertahan pada apa yang aku pilih dalam hidup. Hmm..
Krrriinnngggggg……………………………………
Bel istirahat berbunyi. Aku bersama
Fey, teman sebangku ku pergi ke kantin sekolah. Kedekatan kami berstatus
sahabat. Dia adalah sahabat yang selalu mengertiku. Walaupun aku seringkali
membuatnya kesal. Hehehe. Di kantin, aku dan Fey hanya membeli minuman saja,
tepatnya air mineral. 1 menit berlalu, ku lihat dari kejauhan tampak Zhysca
bersama teman-temannya sedang berjalan menuju ke kantin. Sepertinya Zhysca
tidak menyadari bahwa aku juga berada di tempat yang sama dengannya. “Pur,
menurut lo Eza itu orangnya gimana sih? ‘Thought on’ Eza dong..” tanya Zhysca
pada temannya. Aku kesal dengan ucapannya. “Fey.. kita ke kelas yuk!” ajakku.
Sepertinya Fey juga sudah mengetahui semua yang aku lihat dan aku dengar. Aku
sudah tidak tahan lagi dengan tingkah laku Zhysca yang seolah-olah tidak
mengakui keberadaanku. Aku muak dengan semua orang. Dan pertanyaan Zhysca di
kantin tadi membuat nafsu makanku berkurang. Zhysca itu kakak kelasku, tapi
bagiku dia hanyalah bocah ingusan. Dia lebih tua 2 tahun dariku, tetapi tidak
ada dewasa-dewasanya sama sekali. Aku hanya menghela nafas.
Bel pulang pun berbunyi. Rasa keluh
terasa saat aku sampai di rumah. Memandang langit-langit rumah dan tidur di
atas kasurku yang terasa tidak empuk lagi. Rasanya aku tenggelam dalam badai
pasir gurun sahara. Panas sekali. Tapi kejadian tadi juga memancing badai salju
kutub utara datang menghampiriku. Hingga ku rasa darahku mendingin. Huhh.. 1
pesan masuk di ponselku yang cukup mengagetkanku.
“From : Zhysca
Bisa ketemu nanti Sa?
Gue pengen ngomong nih”
Ahh.. Zhysca lagi
Zhysca lagi. Aku sudah muak dengan semua. Aku membalas sms Zhysca dengan
singkat dan padat.
“To : Zhysca
Y”
Ahhh.. KONYOL jika
aku harus bertatap muka langsung dengan Zhysca. Aku takut akan perasaanku. Uhh
Aku dan Zhysca bertemu di tempat yang
cukup asing untukku. Hmm.. ada apa gerangan ? “Maaf Sa, kelamaan nunggu ya?”
ucap Zhysca. “Ahh.. enggak kok. Ada apaan nih kayaknya penting banget?”
tanyaku. “Ohh.. gini Sa. Gue cuman mau tanya sama lo. Bener lo pacarnya Eza?”
tanya Zhysca. Oh God, gimana bisa dia bertanya seperti itu padaku. Aku menghela
nafas dan berkata “Iya, kenapa? Lo suka sama dia? Lo cinta?” balasku.
"Gue? Suka sama Eza? Enggak lah Sa, Lo ngomong apaan sih?” balasnya.
“Nggak usah sok sandiwara Zhys, gue udah tahu semuanya!.” Balasku lagi. “Sa..
saa.. jangan gitu dong! Gue bisa jelasin semuanya! Sa, please dengerin gue
dulu. Ini semua cuma salah faham.” Rintih Zhysca. Tapi sayang, hatiku sudah
beku. Aku tak dapat merasa apapun lagi. Aku hanya tersenyum kecut dan beranjak
pergi meninggalkan Zhysca, pengkhianat cinta.
1 bulan berlalu begitu saja,
angka-angka kalender pun juga tertiup dan berganti dengan lanjutannya. Hubungan
Eza dan Zhysca pun juga ikut merenggang. Tapi hatiku, ia masih saja seperti 1
bulan yang lalu. Tak ada perubahan dalam diriku, tapi yang ada hanya rasa kesal
yang bertambah hari demi hari. Hingga tak ku rasa setan jail merasuki otakku. Aku
segera menelpon kakak sepupuku yang sedang PSG di Bandung. Aku menceritakan
semua yang telah terjadi pada hubunganku dengan Eza. Aku pun juga mengetahui
bahwa sebenarnya kakak sepupuku agak sedikit kesal karena aku mengoceh tanpa
henti. Hehe
2 hari pun berlalu. Tak ada kabar
apapun dari Putra, kakak sepupuku. Ke esokkan harinya, ada satu pesan masuk di
ponselku.
“From : Zhysca
Sayang, urusan lo
sama gue belum selesai! Apa maksud lo sms gue kayak gitu kemarin? Hellow!!! Lo
tanya sama cowok lo ada hubungan apa gue sama dia? Jangan asal ngomong aja!!!
Gue gak terima ini semua, gue pengen ketemu lo sama Eza nanti jam 8 di jalan
selatan!!”
Oh no! apa yang
terjadi lagi? Segera aku menelpon Putra, kakak sepupuku. Ia menjelaskan apa
sudah terjadi tadi malam. Ternyata ia langsung menghubungi nomor yang aku
berikan padanya. Dan yang perlu di garis bawahi, Putra itu sayang banget sama
aku. Jadi apapun yang terjadi sama aku dia pasti turun tangan. Apalagi masalah
cowok, dia nggak segan-segan buat ngehajar cowok yang berani macem-macem sama
aku. Dan fatalnya, aku lupa semua itu. And now.. ? semua udah terlambat.
Aku pun meng iya kan apa yang di minta
Zhysca. Tak lupa aku juga memberi tahu Eza. Walau aku tlah mengetahui bahwa
Zhysca sudah lebih dulu memberi tahu Eza tentang semua ini. Kesalahfahaman yang
sangat fatal bagiku. Aku segera bergegas menuju tempat pertemuanku dengan para
pengkhianat cinta. Ahh.. terlalu puistis. Aku sengaja berangkat sendiri karena
aku sudah bisa membaca apa yang akan terjadi nanti. Dan ternyata di sana Eza
dan Zhysca sudah sampai lebih dulu. Aku pun turun dari motorku dan menghampiri
mereka. Tak lupa aku juga memasang muka selayaknya dan tak lupa fakesmile
andalanku -_-. Walaupun aku tahu rongga dada ini semakin menyempit hingga sesak
yang begitu hebat aku rasakan.
“Udah lama ya nunggunya? Maaf ya bikin
kalian nunggu lama.” Tiba-tiba kata-kata itu terlontar dengan sendirinya dari
mulutku. Ahh.. padahal aku tidak ingin berbicara satu patah kata apapun, ya
sudahlah. “Ahh.. enggak kok Sa. Aku juga baru nyampek.” Kata Eza. “hmm.. iya”
balas Zhysca. “Ehh.. Za. Aku sama Ghaitsa kesana sebentar ya. Ada yang perlu
aku bicarain.” Ucap Zhysca. Aku melihat kedua mata Eza, sepertinya mereka sudah
mengakhiri hubungan mereka. “Iya” jawab Eza. Aku masih di buat Zhysca bingung
dengan semua.
Aku
terus saja menyebut nama Zhysca, tapi Zhysca tak menghiraukanku. Hingga
tiba-tiba ia berhenti seketika. Mungkin ia kesal karena kau terlalu banyak
menyebut namanya. “Mau ngapain sih?” tanyaku. “Sa, gue itu udah tahu kalo lo
pacarnya Eza. Jadi jangan cari gara-gara deh sama gue. Pakek acara nuduh gue
selingkuh sama Eza segala. Emang lo pikir tuduhan lo itu bener?” Aku
terbelalak, mataku membulat. Dalam hatiku berkata “Emang iya kan? Lo selingkuhannya
Eza. Asal lo tahu Zhys, gue udah tahu semuanya dari awal. Lo gak bisa bohongin
gue dengan cara lo paksain hati lo buat berkata sama kayak mulut lo! Pengecut
lo!”. Tapi semua kata-kata itu tersendat di kerongkongan ku hingga aku hanya
bisa terdiam. “Jawab Sa jangan diem aja.” Bentak Zhysca. Mungkin Zhysca tidak
mengetahui kalau aku gak suka di bentak cuma gara-gara masalah kecil. “Iya..
apa yang lo katain tadi bener semua. Lo hebat ya Zhys. Lo cantik, perfect
sampek-sampek 2 cowok lo embat sekaligus. Dimana hati lo? Jangan sok muna deh
lo di depan gue. Gue udah tau semuanya. Lo gak bisa paksain hati lo buat
ngomong sama kayak apa yang di omongin mulut lo ke gue! Semua itu gak guna
Zhys. Perlu lo tau, kita ini sama-sama cewek. Seharusnya kita tahu gimana
rasanya.” Balasku. Zhysca terdiam kaku, mungkin kata-kata ku membuatnya
membeku. “Cara mandang lo ke Eza itu beda! Cara senyum lo ke Eza itu beda.
Please.. mulai sekarang jangan sok baik di hadapan gue. Jangan sekali-kali lo
tutupin kebusukan lo, karena itu bakal ketahuan juga. Udah cukup gue pura-pura
strong di hadapan semua orang. Karena itu semua lebih sakit daripada gue harus
liat lo berduaan sama Eza!” lanjutku. Aku pun segera pergi meninggalkan Zhysca
yang sedari tadi hanya terdiam. Yang aku tahu hati ini telah pecah dengan
sempurna.
“Udah
Sa? Ada apa? Kok buru-buru?” tanya Eza. Aku mencoba untuk menahan air mataku di
depannya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aku meneteskan satu titik
pertamaku dan dengan segeranya aku memeluk Eza dengan erat. “Za, gue mohon
jangan kayak gini ke gue. Gue takut!! Gue takut cinta yang ada di dalam hati gue
ngilang gitu aja. Please, mulai sekarang lo jangan pernah ada di hadapan gue.
Gue udah cukup sakit Za. Lo bohongin gue! Lo gak pantes di percayain!”
bentakku. Dan tanpa berpikir panjang aku segera meninggalkan Eza tanpa kata
apapun. Aku sudah mengetahui apa yang di rasakan Eza saat ini tanpa dia harus
berkata apapun padaku. Semua jelas di matanya. Di balik senyum yang begitu
manis. Ternyata tersimpan berjuta-juta kemunafikan dan kebohongan besar.
Semenjak
kejadian ini, aku mendiami Eza, bukan Eza. Berkali-kali Eza menghubungiku
setelah kejadian itu. Tapi nihil, tak ada satu pun respon dariku. Kali ini aku
butuh ketenangan dalam hati dan fikiranku. Dalam hatiku berkata “Maafkan aku
Eza. Bukan itu maksudku.”. Satu pesan masuk di ponselku membuyarkan lamunanku.
“From : Eza
Bisa ketemu siang
ini? Aku bisa jelasin semuanya. Please jangan diemin aku kayak gini. Aku sayang
kamu Sa!”
Dan pesan yang di
kirimkan Eza untukku hanya mmemancing butir-butir air mata ku untuk keluar
lagi. Aku tahu sulit untuk bertatap muka dengannya. Aku belum siap bertemu
dengannya langsung.
Tapi kali ini, aku mengiyakan
keinginan Eza. Kami bertemu tanpa satu patah kata apapun. Aku hanya mengikuti
alur lamunanku yang tak berujung. Begitu juga dengan Eza. “Ada perlu apa, Za?”
tanyaku. Eza terkejut, ia menghela nafas. “Sa, maafin aku atas semuanya. Aku
gak maksud buat kamu..” “Iya aku tahu. Gak papa aku kayak gini buat kamu.”
Tanpa kusadari aku tlah memotong perkataan Eza. Eza hanya terdiam. “Za, perlu
kamu tahu. Semua makhluk di bumi ini di ciptakan berpasang-pasangan. Dan semua
makhluk pasti punya kelebihan tetapi di balik itu semua kekurangan pun juga
tidak mau mengalah dengan kelebihan yang di miliki. Begitu juga jodoh, jodoh
itu udah di atur sama yang di atas. Tuhan yang tahu apa yang terbaik buat kita
nantinya.” Lanjutku sok puistis -_-. Eza pun memelukku dengan erat. Dan tak
terasa airmata ini juga ikut keluar tanpa aku menyadarinya. Aku begitu
menyayangi Eza, dan sejujurnya jauh di dalam lubuk hati ini aku menyesali semua
yang telah terjadi. Dalam haru Eza tiba-tiba berkata “Sa, maafin aku.. maaf!!
Aku nggak mau kehilangan kamu. Jangan coba buat mengakhiri semua. Aku tahu
semua ini berat untuk kamu. Tapi aku mohon Sa!”. Mendengar perkataan Eza
membuat tangisanku semakin memuncak. Aku hanya mengangguk dalam pelukan Eza.
Setelah pertemuanku dengan Eza siang
itu. Aku malah semakin menghindari Eza. Aku belum siap bertemu dengannya lagi.
Dan nampaknya Eza menghargai keputusanku. Hubungan kami mengambang dan terbang
pada ujung jalan. Belum ada kepastian. Lama kutunggu kabar tentang Zhysca,
sepertinya Zhysca tlah hilang di telan waktu. Aku menghela nafas.
“Sa, lo sama Hanin di panggil bu Sarah
tuh.” Kata Fey. “Ada apaan sih Fey?” tanyaku. “Gue gak tahu Sa. Lo kesana aja
dulu.” Jawab Fey. Aku segera mencari Hanin dan bergegas ke kantor untuk menemui
bu Sarah. “Ghaitsa.. Hanin…” panggil bu Sarah. “Maaf bu ada apa kok mencari
saya sama Ghaitsa. Kayaknya penting?” celetuk Hanin. Dia salah satu temanku di
sekolah. Orangnya asik, dia juga pinter nyanyi, suaranya bagus banget. Kalo di
bandingin sama suaraku sih, suara ku nggak ada apa-apanya. Dan bu Sarahlah yang
mempertemukanku dengan Hanin. Bu Sarah menamainya dengan Vallens (Nama duetku
dengan Hanin). “Ghaitsa, Hanin.. kalian mau kan ikut lomba di Samarinda? 3 hari
lagi. Semua pendaftaran sekolah yang urus.” Aku terkejut mendengar ucapan bu
Sarah, begitu juga dengan Hanin. Benarkah aku harus pergi? “Tapi apa gak
terlalu mendadak bu?” tanyaku. “Enggak Sa. Lagi pula duet kalian kan bagus.
Persiapkan diri kalian, tampilkan yang terbaik.. oke?” balas bu Sarah.
“Ini beneran Sa? Kita ke Samarinda?
Cuma lomba nyanyi? Seriusan tuh?” tanya Hanin bertubi-tubi. “Iya Han, masa bu
Sarah bohong sih ke kita.? Nggak mungkin kan?” balasku. Keesokkan harinya, aku
membereskan pakaianku. Aku dan Hanin menyetujui kata-kata bu Sarah, orang
tuaku juga senang. Satu hal! Aku tidak memberitahukan ini kepada Eza, sulit
untuk bertatap muka dengannya. Lagi pula, hubungan kami sudah sangat
merenggang. Ku putuskan untuk... Ah tidak tidak, terlalu drama jika memberikan
surat.
Hari yang ku tunggu. Aku dan
Hanin segera bergegas menuju bandara. Di bandara aku di temani oleh Fey, bu
Sarah, Alfa, dan Pak Waluyo kepala sekolahku. “Semoga kalian juara ya! Ibu
berharap yang terbaik untuk kalian.” Ucap bu Sarah menepuk pelan bahuku dan
Hanin. Kami tersenyum. “Lho bu? Kan ibu yang mengajari Ghaitsa dan Hanin
menjadi seperti ini. Pasti menang lah.” Ucap pak Waluyo. Kami pun tertawa,
“Sa.. Nin.. jangan lupa belajar!” lanjut pak Waluyo. Kami mengangguk.
10 menit lagi aku akan
menaiki pesawat, aku akan meninggalkan kotaku dan juga.. hufftt ..!!! aku
menunduk. “Ghaitsa....” suara angin menyebut namaku, seperti Eza berlirih. Aku
mendongak, celingak celinguk mencari seseorang. “Kenapa Sa?” tanya Hanin, aku
terkejut “Gak papa, Cuma laper aja. Mungkin ‘Snack Bar’ nya jauh. Lagi pula 10
menit lagi kita take off.” Balasku, Hanin mengangguk. Pesawat yang aku tumpangi
telah membawaku ke suatu tempat asing yang cukup nyaman bagiku. Ya.. tak ada
bayangan Eza dan Zhysca di depanku.
1 minggu berlalu, aku menang
dalam kompetisi itu. Aku dan Hanin menempati juara 1. Sore nanti aku akan
kembali dengan kemenanganku. Tunggu,... aku larut dalam kemenanganku, di mana
aku yang dulu selalu menyayangi Eza? “Sa, lo tau gak? Kemarin Eza main ke rumah
gue nanyain lo. Gue bilang aja elunya lagi di Samarinda sama Hanin, dan dia
udah tahu segalanya.” Cerita Ihsan
ketika aku sampai di Surabaya dan di jemputnya. “Seriusan?” celetuk Fey. “Gak
mungkin!” balasku. Ryan dan Ihsan tertawa. “Yah, lo gak percaya. Gue saksinya
Sa, gue kemarin juga di rumahnya Ihsan kale’. Mungkin besok lo bakal di tanyain
sama Eza.” Ryan meyakinkanku. Aku hanya tersenyum, membayangkan apa yang akan
terjadi esok hari. Ryan dan Ihsan adalah salah dua dari semua teman-temanku.
Aku sering menceritakan semua kejadian di hidupku pada mereka di luar Fey,
Alfa, dan Hanin. Hmm... mereka lah best friend forever and ever in my life.. he
he
Satu minggu ada di pulau
tetangga, aku sudah merasa kangen dengan suasana rumah dan lingkungan
sekitarku. Tepatnya, suasana kamar dengan kasur yang sudah tak empuk lagi dan
bau bantal gulingku. Tubuh ini terasa kaku dan patah satu per satu. Ku putuskan
untuk beristirahat. Ahhh... belum ada 5 menit aku berbaring, tiba-tiba ponselku
berbunyi. 1 pesan masuk.
“From : Ryan
Malem Sa. ? udah tidur?”
OMG, dari mana Ryan tahu nomor ponselku? Hmm..
dan malam itu Ryanlah yang menemaniku sampai ku tertidur. Nice 😊
Keesokan harinya, ketika ku tiba di
sekolah. Ternyata Bu Sarah telah menyiapkan surprise untukku dan Hanin. Aku
terharu, Bu Sarah menyalamiku dan kemudian memelukku, begitu juga dengan Hanin.
Terlihat dari kejauhan, nampak Ryan sedang tersenyum ke arahku. Aku pun juga
tersenyum ke arahnya. Tapi, pagi ini aku tidak melihat batang hidung Eza.
Kemana dia?
Terlepas dari itu, Ihsan mengajakku ke
kantin. “Sa, ke kantin yuk! Gue yang traktir. Buat ngrayain kemenangan lo sama
Hanin. Gue juga ngajak Ryan, Fey, Alfa, Lia, sama Eza. Mau kan?” ucap Ihsan
padaku. Tapi aku malah terdiam kaku saat ku dengar Ihsan mengucapkan nama yang
telah meleburkan jiwaku, Eza. “Sa, mau nggak? Kok diem?” tanya Ihsan. “Ehh..
iya gue mau. Makasih ya!” balasku. Aku pun segera mengikuti Ihsan menuju
kantin. Begitu juga dengan Hanin, Ryan dan teman-teman yang lain. “Wahh.. kali
ini bakal kenyang nih Sa!.” Celetuk Ryan. “Ahh.. apaan sih Yan, makanan mulu’
lo.. he he. Tumben-tumbenan nih Ihsan ngajakin ke kantin,? Abis bayaran dia?”
balasku. “Iya kali’” balas Ryan. Kami pun tertawa. Entah sadar atau tidak
tiba-tiba Ryan menggandeng tanganku dan mengajakku untuk duduk berhadapan
dengannya. Aku sedikit tidak nyaman dengan tingkah Ryan padaku.
Kali ini Eza datang terlambat.
“Haduh.. maaf nih guys, tadi ada gangguan sedikit. Jadi telat deh!” ucap Eza.
Eza pun langsung mengambil tempat duduk tepat di sebelahku. Hatiku sedikit
menjerit, aku belum siap bertatap muka dengannya. Mungkin tidak ada salahnya
Ryan menggandengku tadi karena yang aku tahu Eza sedang berdebat sesuatu dengan
Zhysca, dan sepertinya Ryan mengetahui itu dan dia tidak ingin aku terluka
lagi. Kami pun segera memesan makanan. “Makan yang banyak, biar cepet gede
kayak gue!” celetuk Ihsan. Kami semua tertawa.
Setelah selesai makan, tiba-tiba Eza
memegang tanganku. Ia mengajakku untuk berbicara. Ryan tak henti memandangku
yang merasa tidak nyaman lagi dengan Eza. “Ada apa Za? Kok buru-buru?” tanyaku.
“Emm.. longlast ya Sa, lo menang di kompetisi cipta lagu di Samarinda.” Balas
Eza. “Ya Ampun.. iya makasih Za.” Balasku. “Lo kok gak ngabarin gue sih kalo lo
ikut lomba di Samarinda? Gue khawatir banget tauk dapet kabar kalo lo ada di
Samarinda.” Balas Eza dengan nada khawatir. “He he.. maaf ya gak sempet
ngabarin. Hand phone gue mati waktu gue mau berangkat.” Aku ngeles, semoga Eza
gak tau kalo aku bohongin dia. Karena sebenarnya aku memang sengaja tidak mau
memberitahunya tentang lomba itu. Aku hanya ingin menenangkan fikiranku.
Kriiiiiinnngggggggggg……………………………………………………….
Bel masuk berbunyi. “Udah masuk tuh.
Yuk ke kelas..” ajakku. Kami berjalan beriringan menuju kelas. Dan nampak dari
kejauhan Zhysca sedang memperhatikan kami, ia tersenyum. Mungkin itu senyuman
perpisahannya dengan Eza atau mungkin itu senyum kemenangan karena dia telah
berhasil menghancurkanku. Ahh.. tidak penting sama sekali jika ku memikirkan
itu.
Sepulang sekolah, ada 1 pesan masuk di
ponselku.
“From : Zhysca
Nanti malem ketemu
bisa? Penting!”
Ada apa lagi ini ?
Aku sudah capek berurusan dengan Zhysca. Buang-buang tenaga saja. Aku
mengiyakan lagi keinginannya untuk ke sekian kalinya. Setelah bertemu, Kami
hanya terdiam dalam lamunan masing-masing. “Sa..” ucap Zhysca. Aku menoleh ke
arahnya “Iya..”. “Sa.. gue..” tiba-tiba Zhysca memelukku dengan erat dan aku
mulai merasakan bajuku basah karena airmata Zhysca. “Zhys.. apaan sih? Lo
kenapa? Coba jelasin ke gue!” balasku. Dia tetap memelukku dengan erat “Sa..
maafin gue, atas semua kesalahan yang gue lakuin ke lo. Gue minta maaf! Ini
semua salah gue, bukan Eza yang salah! Gue yang mancing Eza buat mau jadi
selingkuhan gue! Gue yang naksir Eza Sa.! Eza gak salah, Gue yang salah! Maafin
guee!!!” rintih Zhysca. Aku merasakan tubuh ini mulai melemas. Apa yang aku
takutkan kala itu kini terbuka lebar tanpa batasan di hadapanku. Tak ku rasakan
lagi oksigen yang melalui hidungku. Nafasku tak teratur, apa yang terjadi
padaku ?
Aku mulai bicara sebisa ku. “Zhys..
sebelum lo minta maaf, gue udah maafin kesalahan lo dan juga Eza. Kalian udah
nggak punya salah sama gue, semua udah berakhir Zhys. Silakan kalian menjalani
kehidupan kalian selanjutnya. Itu udah bukan urusan gue lagi!” balasku. Aku
segera melepaskan pelukan Zhysca dan pergi meninggalkannya dengan tubuh lemas
tak berdaya. Dalam batinku berkata “Apakah harus sesakit ini?”. Di perjalanan
pulang, aku bertemu Ryan. Sepertinya Ryan mengetahui bahwa tak ada satu pun
tenaga ada dalam tubuhku. Ryan mengajakku pergi ke suatu tempat. Ia meminta ku
menceritakan apa yang terjadi padaku. Aku tak bisa berkata apapun, aku tak
ingin orang lain tau dan khawatir kepadaku. “Sa.. kenapa diem? Jawab dong
pertanyaan aku tadi. Kamu kenapa?” tanya Ryan. Tapi sampai saat ini pun tak
satupun kata terlontar dariku. Tiba-tiba Ryan mendekat dan memelukku. Kali ini
aku merasa nyaman dalam pelukan Ryan, hingga butir air mata ini mengalir
kembali.
Setelah kejadian tadi malam, aku telah
mengetahui alur sebenarnya. Sandiwara itu telah berakhir. Dan kini kembali seperti
semula dengan lembaran barunya. Ya.. cintaku dan Eza memang tak di takdirkan
berakhir. Aku harap setelah kejadian ini semua akan baik-baik saja. Begitu juga
aku dan teman-teman lainnya. Aku dan Ryan hanya akan berstatus teman sampai
kapanpun. Aku menyayanginya selayaknya seorang teman terbaik. Dan Eza, Zhysca
dan aku sekarang berteman baik. Lebih tepatnya aku dan Zhysca saja. Entah
karena apa sekarang Eza begitu membenci Zhysca. Tapi, aku percaya semua akan
indah pada waktunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar